Dunia Melihat Kita

Dunia Melihat Kita

Oleh Dewi Fortuna

Pada Jum’at tanggal 1 November 2019 saya dan teman-teman belajar matakuliah Pendidikan Inklusi yang sangat menarik dan berbeda dari biasanya. Kami saat itu membahas materi berkaitan dengan anak & remaja penyandang gangguan penglihatan (tunanetra). Yang menarik disini adalah dosen kami Pak MIF Baihaqi meminta beberapa dari kami untuk melakukan eksperimen merasakan sebagai tunanetra.

Ada enam teman saya akhirnya  bersedia untuk melakukan eksperimen tersebut. Saat pembelajaran Pendidikan Inklusi, mereka ditutup matanya menggunakan kain atau penutup mata. Teman yang melakukan eksperimen tersebut adalah Mutia, Almadea, Putri, Ghea, Amira, dan Salma; semuanya semester tiga.

Saat pembelajaran dimulai, seperti biasanya kami membaca cerita. Kali ini ceritanya berjudul “Membentuk Kelas-kelas yang Dapat Menerima Siswa dengan Gangguan Penglihatan”.  Setelah dibacakan cerita tersebut Pak MIF bertanya kepada teman-teman yang melakukan eksperimen, apakah mereka dapat menyimak cerita tersebut. Mereka mengatakan bahwa saat dibacakan cerita, mereka merasa pusing. Suara yang mereka dengar bukan hanya dari yang membacakan cerita saja tetapi dari banyak orang sehingga tidak bisa fokus ke satu suara.

Kemudian Pak MIF memutarkan video tentang kisah Helen Keller. Bagi mahasiswa yang duduk di samping teman yang sedang berperan menjadi tunanetra, harus melihat video tersebut sambil menceritakan kepada teman yang sedang bereksperimen. Saya duduk di sebelah Mutia sehingga saya harus menceritakan cerita dalam video tersebut kepada Mutia. Kisah Helen Keller sangat menginspirasi saya. Bahkan saat saya melihat video sambil menceritakan langsung ke Mutia rasanya saya sangat sedih. Saya akan menceritakan ulang sedikit tentang Helen Keller.

Helen lahir pada tanggal 27 Juni 1880 di daerah Ivy Green, Tuscumbia, Alabama. Dia terlahir dengan sehat dan sangat lucu. Tetapi sayangnya ketika Helen berumur 19 bulan, ia mengalami demam yang sangat tinggi dan merusak mata sekaligus pendengarannya. Dia merasakan dunia yang gelap dan sunyi secara bersamaan. Seiring berjalannya waktu, Helen mulai terbiasa dengan keadaannya. Dia tahu bahwa sesuatu itu dapat ia rasakan dengan meraba dan menciumnya. Helen akhirnya mengenali orang tuanya dengan meraba wajahnya dan pakaiannya. Dia pun mengatahui bahwa dia berada di luar rumah ketika ia dapat menghirup aroma tanaman yang ada di sekitarnya.

Tetapi Helen mengalami frustrasi karena komunikasi yang ia lakukan hanya berlangsung satu arah. Akhirnya dia merasa kesal dan sangat marah. Keluarga Helen tidak dapat mengontrol lagi kelakuan Helen. Akhirnya saat ia berumur tujuh tahun, datanglah seorang guru wanita untuk membantunya. Guru tersebut sangat sabar saat menghadapi Hrlen dan mengerti tentang apa yang Helen rasakan. Helen mulai diajarkan mengenai Alphabet melalui telapak tangannya.

Kemudian ada hal yang membuat saya sangat sedih yaitu saat Helen sangat bahagia ketika diajak ke sebuah pompa air, ia dapat merasakan sentuhan air yang membasahi tangannya. Gurunya, ibu Ane Sullivan, menyentuh tangan Helen dan mengejakan huruf W-A-T-E-R. Saat itu Helen mulai mengetahui bahwa setiap benda di dunia ini mempunyai nama. Helen mulai diajarkan huruf Braille dan Tadoma.

Saat berumur delapan tahun, Helen mulai memasuki sekolah formal bagi anak tunanetra dan tunarungu. Gurunya selalu menemani, menerjemahkan, dan membacakan buku-buku pelajaran. Helen terus berjuang untuk dapat bicara walaupun banyak orang yang tidak mengerti. Dia menjadi terkenal karena kegigihan dalam kekurangannya.

Karena kegigihannya itu, tahun 1900 Helen lulus dan melanjutkan sekolah di Radcliffe College. Kemudian tahun 1904 dia lulus dari perguruan tinggi dengan predikat sangat memuaskan. Saat dia menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Helen mulai menulis tentang dirinya dalam buku “The Story of My Life” yang telah diterjemahkan dalam 50 bahasa, dan masih banyak karya Helen yang terkenal lainnya.

Banyak tokoh yang ingin bertemu Helen karena buku-bukunya sangat menginspirasi banyak orang. Namun pada tanggal 1 Juni 1968 dunia berkabung karena Helen Keller meninggal dunia. Walaupun ia sudah tidak ada, namun kisah dan karyanya akan selalu terkenang selamanya dan tidak akan pernah dilupakan.

Ada kata-kata Helen Keller yang sangat menyentuh hati saya yaitu “Biarlah mereka mengambil mataku, mereka mengambil telingaku, mereka mengambil lidahku. Tetapi Tuhan tidak membiarkan mereka mengambil hatiku. Walau hanya itu yang kumiliki, aku masih dapat memiliki semuanya.”

Saat tayangan singkat mengenai Helen Keller selesai, saya sangat terharu. Jujur, saya ingin menangis saat melihat video itu, tetapi saya ingat sedang menceritakan video itu kepada Mutia. Saya ingin Mutia bisa menyimak dan mengambil makna dari video itu, jadi saya berusaha untuk menahan tangisan.

Dalam video, saya melihat kegigihan seorang Helen dalam menuntut ilmu, keinginan dia membantu orang yang sama seperti dia (mengalami disabilitas) sehingga menginspirasi banyak orang di dunia, dan semangat yang dia punya begitu besar sehingga memiliki jiwa yang pantang menyerah.

Selain Helen yang luar biasa, ada peran penting juga dari keberhasilan Helen yaitu gurunya. Saat orang tua dan orang di lingkungan sekitar Helen bingung untuk menghadapinya, datanglah seorang guru yang sangat baik dan dapat mengerti keinginan Helen. Gurunya dengan sabar mengajarkan Helen untuk dapat mengenal dunia ini walaupun ia mempunyai kekurangan. Guru itu yang membangkitkan semangat Helen untuk tidak pantang menyerah sehingga ia bisa menjadi orang yang menginspirasi dan menghasilkan karya yang luar biasa.

Kemudian, saya bertanya kepada Mutia bagaimana perasaannya saat mendengar kisah Helen Keller. Mutia pun berkata “Aku sedih mendengarnya dan aku juga menangis. Aku merasakan bagaimana kalau aku berada di posisi Helen, yang tidak bisa melihat bahkan tidak bisa mendengar. Apalagi aku yang suka melihat ke jendela untuk memandang indahnya pemandangan di sekitar. Aku jadi berpikir kalau aku gak bisa melihat, aku tidak bisa mengetahui indahnya semua itu dan pasti sedih rasanya. Tapi Helen Keller sangat menginspirasi dia, mau untuk bisa mengenal dunia ini dan aku terharu waktu dia menyadari bahwa ternyata benda di dunia ini mempunyai nama. Sedih banget pokoknya”.

Setelah itu Pak MIF bertanya kepada teman-teman yang lain, bagaimana perasaannya saat mendengar kisah Helen Keller. Jawaban mereka pun sama seperti Mutia, bahwa mereka sedih bahkan menangis karena terharu dengan kisah Helen Keller.

Pak MIF bertanya lagi, “Bagaimana rasanya saat ada teman yang membacakan cerita dari buku dan saat ada teman sebelah kamu yang menceritkan kisah Helen Keller dari sebuah video, lebih mudah menyimak yang mana?”

Mutia menjawab, “Kalau tadi yang membacakan buku ‘kan jaraknya cukup jauh dari saya, saya tidak bisa fokus mendengar cerita itu. Karena saat orang di dekat saya berbicara pelan pun saya bisa mendengarnya, jadi tidak fokus harus menyimak apa yang dibacakan, bahkan saya menjadi pusing. Tetapi saat diputarkan video Helen Keller saya bisa cepat menanggapinya karena ada satu orang di sebalah saya yang menceritakan itu kepada saya sehingga saya fokus hanya mendengarkan Dewi menceritakan kisah di dalam video tersebut”.

Begitupun respon dari mahasiswa yang lain, mereka juga bilang bahwa pusing saat mendengarkan teman yang membacakan cerita dari buku karena mereka tidak bisa fokus ke satu suara apalagi saat mata mereka ditutup, indra pendengaran menjadi sangat sensitive.

Selanjutnya pak Mif memutarkan video lagi. Video itu berceritakan tentang seorang anak tunanetra yang pandai mengaji bahkan melantunkan dengan sangat indah. Kemudian video lain yang menceritakan ada dua anak SD yang membuat mainan Ular Tangga untuk penyandang tunanetra. Pembuatan permainan ular tangga untuk tunanetra ini berawal karena ada sahabatnya yang tunanetra sehingga muncullah ide untuk membuat Ular Tangga Braille. Anak-anak penyandang tunanetra pun senang bisa bermain ular tangga braille.

Kemudian setelah memutarkan beberapa video mengenai tunanetra, Pak MIF meminta teman-teman saya yang sedang bereksperimen mengambil benda dan memberikan kepada temannya dengan berjalan. Terlihat mereka ragu untuk berjalan karena takut menabrak sesuatu, dan harus meraba meja untuk mengetahui posisi mereka. Setelah itu mereka pun selesai melakukan eksperimen dan boleh membuka penutup matanya.

Pak MIF meminta teman-teman saya yang bereksperimen menceritakan bagaimana saat menuju kelas dengan ditutup mata. Orang yang pertama bercerita adalah Salma. Salma sudah memulai melakukan eksperimen dari lantai tiga FIP baru. Dia dituntun oleh temannya untuk menaiki lift dan masuk ke dalam kelas. Saat sampai di lantai delapan, dia sebenarnya tahu jalan untuk menuju kelas tetapi saat matanya ditutup, dia menjadi ragu dan khawatir untuk berjalan karena takut jatuh.

Selanjutnya Amira yang bercerita. Amira sudah melakukan eksperimen dari lantai satu FIP baru, sama seperti Salma dia ragu untuk berjalan walaupun ada yang mendampinginya. Selanjutnya Ghea dan Putri melakukan eksperimen dari lantai tiga FIP baru. Tidak jauh beda ceritanya dengan yang lain tetapi ada hal yang unik karena mereka sempat dikira mahasiswi PKh (Pendidikan Khusus).

Kemudian giliran Almadea yang bercerita. Cerita dia cukup menarik karena dia memulai eksperimen dari kostan yang ada di jalan Geger Kalong Girang. Dia berjalan didampingi oleh teman. Temannya berkata bahwa banyak orang yang memperhatikan mereka. Awalnya saat berjalan Alma menabrak sesuatu, namun langsung diarahkan langkahnya oleh teman yang mendampingi. Kemudian tangan Alma juga selalu menjadi perhatian bagi yang mendampinginya karena khawatir meraba atau memegang sesuatu yang berbahaya. Apalagi di jalan tersebut banyak yang berjualan sehingga harus berhati-hati, takutnya tangan Alma menyentuh penggorengan atau hal berbahaya lainnya.

Saat sudah sampai di lantai delapan, Alma menunggu di kelas yang kosong sendirian. Dia merasa khawatir dan takut saat ditinggal sendiri, apalagi matanya ditutup, dalam arti dia tidak bisa melihat apapun dan menjadi cemas.

Orang terakhir yang bercerita adalah Mutia. Dia memulai eksperimen dari lantai delapan. Saat matanya mulai ditutup dengan penutup mata, banyak teman yang mulai jahil kepadanya seperti ada orang yang mencubitnya. Dia pun merasa ragu untuk berjalan.

*

Pembelajaran pun selesai. Banyak pesan yang dapat diambil dalam pembelajaran kali ini. Sebenarnya setiap kami belajar mata kuliah Pendidikan Inklusi banyak pesan yang tersampaikan dalam cerita-cerita yang ada di buku tersebut. Namun kali ini sangat berbeda karena ada yang melakukan eksperimen sehingga kami  larut dalam pembelajaran tersebut dan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penyadang tunanetra.

Dari kisah Helen Keller banyak makna yang sangat indah dan pesan yang sangat menginspirasi. Dari kisah tersebut dan eksperimen yang dilakukan oleh teman-teman, saya jadi mengerti pentingnya orang-orang di lingkungan sekitar untuk mendampingi orang yang menyandang tunanetra. Karena mereka bisa mengetahui dunia ini jika ada yang mengarahkan dan mengajarkannya. Orang di lingkungan sekitarnya pun harus menganggap mereka itu tidak berbeda dan sama seperti orang pada umumnya. Dukungan dari orang lain membuat para penyadang tunanetra menjadi bangkit dan semangat untuk menjalani hidupnya.

Dari kisah Helen Keller kita belajar untuk menerima segala kekurangan yang ada di dalam diri kita. Kekurangan bukan suatu hal yang menghambat diri untuk menuju keberhasilan, tetapi kegagalan itu terkadang dibuat oleh diri sendiri bukan oleh kekurangan tersebut. Contohnya tidak adanya semangat untuk mencapai kesuksesan, merasa tidak mampu dibandingkan orang lain, dan lain sebagainya. Helen Keller membuktikan bahwa kekurangan yang diberikan oleh Tuhan itu merupakan suatu hal yang istimewa diberikan oleh-Nya melebihi kelebihan yang kita punya.

Helen Keller adalah penyandang tunanetra dan tunarungu. Dia tidak dapat melihat indahnya dunia, indahnya alam semesta yang telah Tuhan ciptakan. Dia tidak bisa melihat orang-orang di sekitar yang menyayanginya, bahkan dia tidak bisa melihat bagaimana dirinya. Kemudian dia tidak bisa mendengar indahnya kicauan burung di pagi hari, dia tidak bisa mendengarkan indahnya musik dan lagu yang mempunyai makna pada setiap nada dan liriknya. Dia tidak bisa mendengarkan orang berbicara, intinya dia tidak bisa melihat dan mendengar apapun yang ada di dunia ini. Bisa dibayangkan bagaimana merasakan kegelapan dan kesunyian dalam waktu yang bersamaan.

Namun Helen Keller bisa bangkit dari situasi tersebut sehingga dia menjadi seseorang yang dikenal dunia. Kekurangannya tidak menghentikan semangat untuk berkarya. Dia menjadi seorang penyandang tunanetra dan tunarungu pertama yang berhasil meraih gelar sarjana. Dia juga berhasil menjadi seorang penulis, aktivis politik, dan menjadi seorang dosen. Dunia benar-benar mengenalnya sebagai sosok inspiratif.

Dari kisah Helen Keller ini kita juga mengambil pesan yang sangat berharga, bahwa dia tidak bisa melihat dan mendengar yang ada di dunia ini, tetapi dunia bisa melihat dan mendengar dirinya. Intinya bagaimana suatu kekurangan itu tidak dijadikan sebagai beban tetapi kita harus berusaha menjadikan kekurangan itu menjadi hal yang istimewa dan membuat dunia melihat kita.***

alirosidarido

Admin http://psikologi.upi.edu

Comments are closed.