Kisah Cinta Anne Sullivan dan Helen Keller di Psikologi Perkembangan

Anne Sullivan dan Helen Keller

Gambar diambil dari Wikipedia.org

Oleh: Fathiyatus Syafigah ~ angkatan 2018

“Setelah nonton film ini aku merasa bahwa guru adalah segala-galanya. Posisinya penting. Perannya penting. Dan di film dijelaskan benar hal tersebut.” – Haura

“Anne digambarkan sebagai sosok yang sabar tanpa pamrih. Kesungguhannya benar-benar terlihat. Jiwanya sangat ikhlas.”- Naya

“Bagaimana Anne menyadarkan bahwa Helen harus berdiri pada kakinya sendiri. Tadi juga terlihat sekali contoh reward dan reinforcement yang ditampilkan. Juga menyadarkan bahwa treatment atau perlakuan antara guru dan orang tua itu berbeda dan peran mereka penting untuk Helen.” – Lady

“Dari film ini aku belajar bahwa ketika kita sayang sama seseorang, kita harus tau cara memperlakukan dia agar rasa sayangnya sampai. Cari caranya ketika sayang dengan seseorang, biar nggak salah tafsir.” – Annes

“Kagum sekali dengan cara mengajarnya. Helen benar-benar diajarkan bagaimana seharusnya berpikir. Nggak Cuma sekedar mengenal huruf dan bahasa, Anne berhasil mengajarkan apa itu benar dan apa itu salah pada Helen.” – Naida

Komentar-komentar di atas tercatat dan membuktikan begitu mengesankannya film The Miracle Worker yang ditayangkan pada mata kuliah Psikologi Perkembangan II yang diampu oleh Bapak Mif Baihaqi dan Ibu Triana Lestari. Film yang menayangkan perjalanan seorang Anne Sullivan yang menjadi seorang guru dari Helen Keller yang fenomenal itu berkali-kali membuat merinding penonton. Apakah seram? Bukan, bukan karena seram. Tapi setiap Helen menunjukkan sebuah perubahan dalam proses belajarnya, dari sana kemerindingan itu tercipta.

Mahasiswa Psikologi UPI, kelas A dan B angkatan 2018 begitu menikmati dan banyak belajar dari perilaku yang hadir di dalam film. Tentang cara kerja reward, reinforcement, dan punishment. Tentang bagaimana sikap seseorang berpengaruh pada orang lain. Tentang butuhnya kerja sama antara orang tua dan guru dalam pendidikan. Tentang cinta.

Saat film berakhir, isakan-isakan kecil dan mata yang berkaca-kaca terlihat pada sudut mata teman-teman 2018. Kisah cinta Anne Sullivan pada Helen Keller ini begitu membekas dan meninggalkan banyak makna dan menjadi referensi berpikir pada calon sarjana psikologi ini.

Metode belajar yang tidak hanya berpaku pada text book dan memanfaatkan metode lain ini patut dipertimbangkan dan diapresiasi dengan baik. Mahasiswa tidak hanya sebatas menonton dan mendapatkan inspirasi baru. Tapi layaknya observasi dan menganalisis, kira-kira materi dan teori apa yang ada di dalam film. Selepas kelas berakhir, agar output lebih terlihat, pengajar bisa saja meminta mahasiswa untuk menuliskan analisis atau hanya kesan-pesan. Secara tidak langsung, mahasiswa belajar dari film yang mereka tonton dan menjadikannya inspirasi untuk terus berusaha, belajar, dan memaknai sebuah peristiwa. Sisanya, tinggal memilih film yang cocok untuk dijadikan referensi belajar bagi mahasiswa.

Kisah cinta Anne dan Helen ini menjadi peristiwa bersejarah yang tidak hanya menjadi cahaya pada dunia pendidikan dan psikologi. Namun juga mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah pembatas abadi. Ia bisa didobrak dan dipatahkan oleh kerja keras, kesungguhan, dan tentu saja oleh cinta.

alirosidarido

Admin http://psikologi.upi.edu

Comments are closed.