By: Siti Vania Khoerunisa
Ada salah satu pepatah yang mengatakan “You can’t pour from an empty cup”, banyak dari kita yang merasa bahwa pepatah tersebut benar tapi masih merasa sulit untuk mengutamakan kebutuhan kita. Khususnya nilai ketimuran sering mengatakan kepada kita bahwa perbuatan self-care bukanlah sesuatu yang bagus untuk dilakukan, karena hal tersebut memberikan pesan, “kesejahteraan saya adalah satu-satunya prioritas saya.” dan bisa membuat orang mempersepsikan bahwa kita adalah orang yang “tidak punya hati”.
Ada perbedaan besar antara selfish dan self-care. Manusia mempunyai sumber daya yang terbatas untuk digunakan, jadi mengurus diri sendiri dan melakukan self-care bukanlah hal yang egois. Relitanya, ketika kita memilih untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, kita akan lebih siap untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Salah satu analogi yang dapat menjelaskan fenomena self-care vs selfish adalah analogi masker oksigen pada pesawat.
Ketika masker oksigen diturunkan dalam keadaan darurat, penumpang diinstruksikan untuk mengenakan masker oksigen sendiri sebelum membantu orang lain, termasuk anak Alasannya adalah bahwa jika seseorang tidak mendapatkan oksigen yang cukup, orang itu mungkin kehilangan kesadaran dan tidak mampu membantu siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Dengan memastikan diri kita sendiri mendapatkan oksigen terlebih dahulu, kita akan tetap sadar dan mampu membantu orang lain dengan lebih efektif.
Salah satu perbedaan paling mencolok adalah keegoisan mengecualikan orang lain, sedangkan kepedulian terhadap diri sendiri. Orang-orang akan cenderung merasa tersisih atau ditinggalkan ketika orang lain tidak melakukan semua yang mereka inginkan, tapi itu adalah sesuatu yang harus mereka pelajari karena sebagai manusia, kita tidak bisa memuaskan semua orang