Oleh: Hanifa Agnat Azzahra
Sebagai manusia yang ingin nya “bahagia” terus, dan sedih ketika definisi “bahagia” itu hilang, malah akan membuat kamu terpuruk atau bahkan menyebabkan kesehatan mental kamu menurun. Lalu bagaimana cara agar bisa menerima ketika definisi “bahagia” itu hilang?
Aku pernah membaca sebuah tulisan di sosial media yang isinya you don’t have to always happy, all you have to do is don’t forget to be happy. It’s okay to feel all of your emotions. That’s what makes you human. Kamu hanya perlu menghapuskan kata harus selalu bahagia dalam diri kamu dan mengganti nya dengan jangan lupa untuk bahagia. Satu hal penting yang perlu diingat bahwa tugas manusia adalah berusaha dan percayalah bahwa لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا (Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya (Al-Baqarah: 286)).
Ketika kamu telah memberikan afirmasi-afirmasi baik ini pada diri kamu, percayalah ketika beberapa rencanamu tidak sesuai dengan apa yang telah kamu rencanakan, kamu tetap akan menemukan definisi “bahagia” itu.
Ingat kunci nya, maka kamu tidak akan lupa untuk berbahagia
Bionarasi
Hanifa Agnat Azzahra, mahasiswi psikologi UPI angkatan 2023 ini akrab disapa Yaya. Perempuan kelahiran Garut, 21 Desember 2004 memiliki hobi nonton drakor. Yaya dapat dihubungi melalui akun media sosial Instagram di @hnfazzhra