Kajian Film “KALeM#80” Film Kartini: Mengenang Jasa Perempuan dari Jepara

Kajian Film “KALeM#80” Film Kartini: Mengenang Jasa Perempuan dari Jepara

Museum Pendidikan Nasional UPI,

Ruth Agestianti & Fasya Dhiya | Jurnalis Independen Psikologi

Kegiatan Kajian Film yang dikenal dengan sebutan KALeM merupakan salah satu cabang kegiatan di bawah naungan Ruang Sumber Psikologi UPI. Setelah vakum beberapa saat karena pandemi covid-19, KALeM#80 kembali digelar di Museum Pendidikan Nasional pada Kamis, 25 April 2024. Dengan dihadiri 24 orang mahasiswa bersama dengan dosen, acara ini tidak hanya menjadi forum untuk menonton dan mengkaji film, tetapi juga menjalin silaturahmi antara seluruh keluarga mahasiswa psikologi maupun mahasiswa program studi lain di Universitas Pendidikan Indonesia.

Pilihan film untuk KALeM#80 jatuh pada film “Kartini”, sebuah pilihan yang tepat untuk memperingati Hari Kartini pada 21 April 2024 sebelumnya. Film ini tidak hanya memperingati sejarah panjang perjuangan Kartini, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. 

Dalam wawancara dengan koordinator KALeM, Dhafin (Mahasiswa Psikologi Angkatan 23), Ia menyampaikan pesan bahwa film ini merupakan pengingat akan sejarah panjang pendidikan di Indonesia. Dhafin berharap agar setiap pelajar, termasuk mahasiswa, dapat mengenang tokoh-tokoh pejuang pendidikan dan memanfaatkan pendidikan yang mereka jalani saat ini dengan sebaik-baiknya.

Adapun, Tubagus (Mahasiswa Psikologi Angkatan 2023) sebagai salah satu peserta, mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam KALeM dipicu oleh rasa penasarannya terhadap kegiatan yang sering disosialisasikan oleh pembina KALeM, Pak MIF Baihaqi, di ruang kelas perkuliahan. Ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap tim KALeM atas pemilihan tempat dan persiapan yang maksimal.

Peserta lainnya, Farah Amelia, juga berbagi kesan positifnya. Ia merasa bahwa film “Kartini” tidak hanya seru dan menghibur tetapi juga menginspirasi dengan perjuangan Kartini yang tak kenal lelah untuk pendidikan. Meskipun suasana menjadi lebih ‘melow’ selama penayangan, mengingat perjuangan pendidikan bagi perempuan di Indonesia tidak mudah, tetapi kehadiran teman-teman membuat acara itu tetap berkesan.

Keberhasilan KALeM#80 ditunjukan juga dengan harapan semua peserta untuk keberlangsungan dan kesuksesan kegiatan ini. Mereka berharap agar KALeM terus sukses dan dapat menayangkan film-film yang semakin seru dan memikat. Pesan semangat pun ditujukan bagi para panitia agar selalu konsisten membangun dan mengembangkan kegiatan KALeM di kemudian hari. 

Kajian film seperti KALeM#80 bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga merupakan sebuah kegiatan untuk mengingat kembali sejarah, memperkuat rasa persaudaraan, dan menginspirasi generasi muda untuk terus berjuang dalam meraih pendidikan serta cita-cita mereka. Semoga KALeM terus berkembang dan menjadi wadah yang bermanfaat bagi mahasiswa psikologi UPI dan masyarakat pada umumnya.

Admin http://psikologi.upi.edu