(Bandung, 10-17 Juni 2025). Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2023 mengikuti ujian akhir mata kuliah Psikodiagnostik dengan metode role playing. Ujian berlangsung selama empat hari (10, 12, 16, dan 17 Juni 2025) dilaksanakan di tiga Ruang Sidang Psikologi UPI. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa angkatan 2021 sebagai testee, yaitu Fadliah Tri Kusnanda, Deri Fauzan Prawira, Krisbandaru, dan Wafa Aini.
Ujian akhir ini ditujukan untuk menguji kemampuan mahasiswa dalam melakukan tes intelegensi melalui simulasi role playing. Beberapa mahasiswa angkatan 2021 yang saat ini sedang magang di Laboratorium terlibat menjadi partisipan dengan bermain peran sebagai testee dengan karakteristik berbeda, seperti, anak normal yang berusia 5 tahun 4 bulan, 9 tahun 7 bulan, dan 6 tahun 9 bulan, serta anak dengan dugaan hambatan intelektual berusia 8 tahun 1 bulan dan 5 tahun 5 bulan.
Ujian Psikodiagnostik kali ini menguji mahasiswa semester 4 (angkatan 2023) sebanyak 5 kelas dengan pengawasan dosen penguji, di antaranya, kelas A dan B dibawah pengujian Ibu Herlina dan Ibu Eka Fauziyya; kelas D dan E dibawah pengawasan Ibu Anastasia dan Ibu Hanna Maryama; dan kelas C dibawah pengujian Pak Farhan Zakariyya dan Ibu Eka Fauziyya . Metode role playing dalam ujian Psikodiagnostik tes intelegensi sudah diterapkan sejak 2 tahun terakhir sebagai pengganti praktikum
sebelumnya yang mengharuskan mahasiswa membawa anak TK/SD sebagai testee. Pendekatan ini dianggap lebih efisien mengingat jumlah mahasiswa yang cukup banyak.
Ketika jurnalis JIP bertanya pada Irkha Putri, salah seorang peserta UAS, ia menyampaikan kesan, “Awalnya saya merasa sangat gugup, bahkan sebelum masuk ke ruangan. Saya terus mengulang-ulang role play sendiri dan membaca kembali instruksi penyajian alat tes. Kemudian, saat nama saya dipanggil dan saya duduk berhadapan dengan testee, rasa gugup dan cemas semakin meningkat, hingga apa yang sudah saya latih terasa menghilang begitu saja. Akibatnya, saya melakukan beberapa
kesalahan saat menyajikan alat tes pertama.” Lalu bagaimana Teh Irkha menghadapi rasa gugup ini, tanya JIP. “Saya mencoba menenangkan diri sebelum melanjutkan ke alat tes kedua, dan meskipun masih ada kesalahan, saya berhasil meminimalkannya.”
Ada hikmah menarik yang bisa diambil oleh Teh Irkha, “Dari pengalaman ini, saya menyadari perlunya lebih banyak latihan dalam hal kejelasan instruksi, kemampuan multitasking, serta pentingnya mengelola kecemasan. Meskipun sempat merasa tertekan, pengalaman ini sangat berharga dalam membentuk kesiapan saya ke depannya dalam menghadapi situasi praktik
serupa.” Jurnalis lainnya, sempat meminta pendapat juga kepada Kak Gerya Azzka. “Saya sejujurnya merasa sangat gugup dan grogi karena takut membuat kesalahan. Ujian seperti ini juga membuat saya teringat pada ujian OSCE yang biasa dilakukan oleh mahasiswa kedokteran, dimana setiap detail dinilai secara menyeluruh.”
Ditanya lebih lanjut, apa ada kesan di balik pengalamannya, kak Gerya? “Pesannya, untuk menghadapi ujian-ujian sejenis perlu persiapan yang sangat sangat matang, apalagi persiapan mental agar tidak merasa ‘blank’ saat di ruang ujian.” Menurut salah seorang dosen pengampu, Ibu Eka Fauziyya, M.Psi., bahwa melalui ujian ini diharapkan mahasiswa Psikologi UPI memiliki kemampuan yang mumpuni dalam pelaksanaan asesmen psikologis sebelum praktik lapangan di dunia kerja. Hal ini dirasakan benar oleh peserta UAS lainnya, Gerya Azzka. “Menurut saya, uas tes intelegensi dalam bentuk role playing kemarin dibuat memang serius untuk melatih kita sebagai mahasiswa didalam situasi yang nyata nantinya.”
Rasanya kurang lengkap apabila JIP tidak meminta pendapat dari mahasiswa yang berperan sebagai testee. Jurnalis JIP mencoba menghubungi Kak Fadliah Tri Kusnanda ’21. ”Kesan saya selama menjadi testee untuk empat hari kemarin ada mudah dan sulitnya. Mudahnya saya hanya perlu menjawab pertanyaan dan mengikuti instruksi. Namun kesulitannya saya perlu menyesuaikan usia menjadi anak-anak, bahkan menjadi anak yang memiliki hambatan intelektual.”
Kesan agak berbeda dialami oleh Kak Wafa Aini ’21. Selama roleplay, dia memposisikan diri sebagai anak yang dites, yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. “Dulu, ketika menjadi tester, saya nggak pernah tahu rasanya ditanyai pertanyaan-pertanyaan
ataupun diminta melakukan tugas menyusun cerita, berhitung, dan lain-lain. Ternyata, ketika berada di posisi tetstee hal itu cukup melelahkan.” Lalu apa hikmahnya?, dia menjawab, “Dari situ, saya berpikir bahwa menjadi tester juga harus membuat testee nyaman selama tes. Teman-teman angkatan 2023 cukup baik dalam membuat testee nyaman dan tenang
selama tes berlangsung.”
Sedangkan bagaimana hikmah yang bisa diambil oleh Kak Fadliah Tri Kusnanda? “Melihat dengan detail bagaimana cara mahasiswa menyajikan alat tes IST dan WISC membuat saya secara tidak langsung refleksi dan belajar hal baru yang sebelumnya tidak saya ketahui. Oleh karena itu, seluruh rangkaian praktikum inteligensi ini membuat saya belajar lagi dan merasa bertumbuh bersama-sama dengan mahasiswa psikologi angkatan 2023.”
Bahan dan foto: MB & EF (JIP)
Penulis teks: Kusuma ’24 (JIP)
Narasumber: Irkha Putri Khalila ’23, Gerya Azzka ’23, Fadliah Tri Kusnanda ’21, Wafa Aini ‘21


