TEMU RUANG ASPIRASI MAHASISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS: Mendengar Suara, Merancang Aksi, Memberikan Layanan Terbaik untuk Semua

Bandung, 12  November 2025 – Telah dilaksanakan kegiatan Temu Ruang Aspirasi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus, sebuah forum dialog yang dirancang untuk menampung suara, kebutuhan, serta pengalaman mahasiswa berkebutuhan khusus di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan kampus yang lebih inklusif dan ramah bagi seluruh civitas academica.

Pada kesempatan ini, Program Studi Psikologi UPI turut mengirimkan dua perwakilan mahasiswa, yaitu Arjuna Ramadhan (Angkatan 2023) dan Muhammad Nadiem Abdurrohman (Angkatan 2022). Selain delegasi dari Psikologi, kegiatan ini juga dihadiri oleh mahasiswa berkebutuhan khusus dari berbagai prodi, orang tua mahasiswa, serta beberapa pihak kampus yang terlibat langsung dalam layanan dan pengembangan inklusivitas di UPI.

Pembahasan dalam seminar ini berfokus pada isu-isu disabilitas, layanan kampus, serta rencana strategis UPI untuk meningkatkan fasilitas yang lebih inklusif. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu mahasiswa yang hadir, Arjuna menjelaskan bahwa ketertarikannya mengikuti kegiatan ini bermula dari keprihatinannya terhadap minimnya ruang diskusi mengenai inklusivitas di UPI, sehingga menurutnya forum seperti ini menjadi sangat penting untuk dilaksanakan.

Selanjutnya, Arjuna menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan seminar ini terbagi dalam beberapa sesi. Pada materi pertama, narasumber membahas mengenai jenis-jenis disabilitas serta keunikan yang dimiliki oleh masing-masing individu, termasuk contoh inspiratif seperti penyandang cerebral palsy yang mampu menguasai hingga 16 bahasa. Materi kedua berfokus pada rencana UPI di tahun mendatang untuk meningkatkan fasilitas kampus yang lebih ramah disabilitas, seperti penambahan lantai pemandu di beberapa gedung. 

Selain pemberian materi, sesi yang paling dinantikan adalah Aspirasi Mahasiswa, di mana peserta dari berbagai jurusan diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman serta kendala yang mereka hadapi. Arjuna menggambarkan suasana forum ini sebagai semi-formal namun terasa sangat hangat. Pihak penyelenggara menciptakan suasana yang nyaman agar para peserta merasa aman dan didengar. “Aku belajar untuk lebih merendah,” ungkap Arjuna saat diwawancara. “Aku menyadari bahwa teman-teman disabilitas memiliki banyak kelebihan yang seringkali luput dari perhatian kita. Setelah mengikuti acara ini, aku juga jadi ingin belajar bahasa isyarat.” Pelaksanaan kegiatan Temu Ruang Aspirasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih inklusif, manusiawi, dan berkeadilan di lingkungan kampus Universitas Pendidikan Indonesia.

Penulis: Gwyneth